MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 BANDUNG
Alamat : Jl. Komp. Bumi Karya Bumiwangi Kec. Ciparay
Kabupaten Bandung Kode Pos 40381
022 - 5960006
Informasi Sekolah
Music Mp3
  • 1.
    Bis Sekolah
  • 2.
    Sahabat Pena
  • 3.
    Nikita
  • 4.
    Kabogoh Jauh
  • 5.
    If I fell
  • 6.
    Just The Wy You are
  • 7.
    My Way
Carut-Marut Dengan Segala Problemnya

Pernahkah anda bertanya, dengan jumlah penduduk yang cukup besar di Indonesia, mengapa Indonesia seakan-akan selalu ketinggalan dibandingkan negara lain ?

Atau pernahkah anda iri dengan prestasi negara lain ? dari pembangunan sampai budaya bersih, dari prestasi olahraga sampai membangun roket ke luar angkasa, dari negara pulau kecil yang tandus, negara seperti Singapura berhasil bangkit menjadi salah satu kekuatan besar di Asia. Sedangkan Indonesia ?……………………..

Jika dilakukan analisa mendalam, masalah ini benar-benar kompleks. Tetapi lewat keterbatasan tulisan saya, saya ingin menyoroti beberapa perbedaan yang mendasar. Semoga dapat memberikan sedikit pemahaman dan pengertian. Mohon petunjuk jika ada yang salah.

“Orang sukses bicara ide, orang biasa bicara kejadian, orang gagal bicara orang lain.”

Inilah pemikiran yang menjadi dasar pembangunan manusia di negara-negara maju. Paling tidak ini yang saya lihat dari hasil pengamatan saya.

Bagaimana negara maju mencetak orang-orang sukses ? Para founding father dunia pendidikan di negara maju merumuskan pendidikan dengan fokus mengoptimalkan imajinasi dan logika pada anak-anak mereka. Kurikulum mereka begitu menitikberatkan pada pembangunan imajinasi dan logika pada anak, di sini biasa disebut perkembangan otak kiri dan kanan. Karena itu, jika ditilik dari kemampuan anak-anak mereka, untuk beberapa hal mungkin akan terlihat kalah dibandingkan di Indonesia. Dapat saya contohkan banyak hal, tetapi saya beri satu contoh saja : saya mempunyai beberapa teman di Amerika, Kanada, Belanda, dan Prancis. Dari banyak obrolan dengan mereka, saya cukup kaget mengetahui bahwa di negara mereka, normalnya seorang anak belajar menulis dan menghapal huruf adalah usia 10 tahun. Semasa sekolah sebelum itu, pendidikan yang didapat anak-anak tersebut (dalam standar kurikulum Indonesia) adalah permainan yang tidak kelihatan ada gunanya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Sebagian besar mungkin masih dapat mengingat pelajaran yang diterima sejak kecil. Dari TK, tanpa dasar logika, anak-anak dipaksa menghapal huruf dan menulis. Kemudian tanpa alasan yang jelas, disuruh menghapal, meskipun anak-anak itu belum paham kata-kata. Lalu belum lagi pelajaran menggambar yang mewajibkan mewarnai dengan warna yang sudah ditentukan. Belum lagi aturan tidak boleh mewarnai lewat garis. Belakangan saya baru tahu kalau selain yang saya sebutkan di atas, anak TK diwajibkan bisa baca-tulis, menulis huruf mandarin, menulis Arab, menghitung, dan berbagai beban tambahan yang menurut saya tidak penting. Maka dari itu semakin tahun tas sekolah anak-anak itu semakin berat saja.

Lalu, berkaitan dengan pelatihan sikap, saya berikan beberapa contoh ucapan orang tua di negara maju :

Anak lari-lari lalu terjatuh : “ayo, berdiri… kamu tidak apa apa?”

Anak diberi obat merah yang rasanya sakit : “Nak, ibu tahu ini sakit, tapi coba tahan sebentar ya, karena obat ini penting supaya kamu cepat sembuh.”

Lalu bandingkan dengan di Indonesia :

Anak lari-lari lalu terjatuh : “Aduuh, kasian anakku, wah, lantainya nakal ya, sini mama pukul….” Dan masih ada yang heran kenapa masyarakat kita suka cari kambing hitam ?

Anak diberi obat merah yang rasanya sakit : “Udah, nggak sakit gitu lhoo.. jangan cengeng ah…” Dan masih banyak yang heran mengapa bangsa ini seakan sudah kehilangan rasa empati ?

Itulah mengapa pendidikan ala Indonesia merupakan lahan yang subur untuk menanam segala macam benih, dari kebaikan, sampai stigma, yang merupakan cikal bakal ekstrimisme. Berapa sering guru dan orangtua kita mengajarkan bahwa orang itu dari “golongan lain” ? atau bahwa “golongan kita” itu lebih baik dari mereka ? atau bahwa sedang terjadi Islamisasi, Kristenisasi, Katolikisasi, Budhaisasi, Hinduisasi, Konghucuisasi, dan sasi-sasi yang lainnya ? atau berapa sering kita dengar ledekan tentang agama lain, suku lain, etnis lain, daerah lain, dan seterusnya, meskipun itu dalam konteks “bercanda” ? Yang semakin memperparah keadaan, bukan saja teman-teman kita yang melakukan itu, tetapi juga guru dan orangtua.

Itulah sebabnya banyak kasus belakangan yang melibatkan guru / dosen / pendidik di sekolah tidak membuat saya heran. Dan tidak perlu heran juga mengenai buah pendidikan Indonesia dari peristiwa penghinaan presiden, pencakaran polisi, sampai kasus “pahlawan kafir”, dan seterusnya, lha wong yang ngakunya dosen , peneliti, dan mantan wartawan aja bisa nyalahin Facebook kok…………… (titik-titik)

Itu sebabnya saya tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar dan membaca kalimat “yang penting akhlak”. Mengapa begitu ? Karena menurut saya akhlak itu urusan saya dengan Tuhan. Sedangkan kaum setengah dewa ini maunya menyamai kemampuan Tuhan dengan mengukur akhlak. Hebatnya lagi, orang yang berani mengajari orang lain tentunya merasa kemampuannya di atas, sehingga mampu menjadi guru bangsa. Kalau menurut saya sih, urus saja akhlakmu sendiri.

Berikut beberapa catatan saya mengenai dunia pendidikan Indonesia :

  1. Pencapaian menjadi sesuatu yang mutlak, tidak peduli bagaimana caranya. Pokoknya harus ranking, mau les kek, mau kursus kek, mau nyontek kek, mau nyogok kek, nggak peduli. Kegagalan, apalagi kalau sampai tinggal kelas, dianggap sebagai aib, sehingga anak-anak sedari kecil sudah diberian beban stres, yang berujung pada pencarian pelampiasan.
  2. Tidak menghargai hak anak. Usia anak yang seharusnya diisi dengan bermain dihabiskan dengan kewajiban menghafal, menghafal, dan menghafal. Meskipun 95 % dari hafalan tersebut tidak akan digunakan dalam kehidupan nyata.
  3. Terlalu banyak kepentingan. Bayangkan saja, semua mata pelajaran minta dianggap penting dan harus dihafal luar kepala. Jadi meskipun sedari kecil saya sudah tahu mau jadi apa, tetap saja saya diwajibkan belajar semua. Dan kenyataanya sekarang, saya masih belum paham apa gunanya mengetahui koordinat Azerbaijan, atau ketinggian gunung Semeru, atau panjang gelombang longitudinal, atau kecepatan jatuhnya apel dibanding semangka, dst dst.
  4. Terlalu banyak tes, ujian, ulangan, dst dst. Hampir setiap hari ada ulangan, sehingga terciptalah SKS (Sistem Kebut Semalam), yang mana setelah hafalan hari ini digunakan untuk ulangan besok, lalu segera dilupakan untuk menghafal yang lainnya. Ini seperti mencetak manusia yang berpikiran pendek, tidak mempunyai pemikiran jangka panjang.
  5. Melanggar hak asasi anak-anak. Kurikulum Indonesia berusaha mati-matian menciptakan manusia yang seragam, padahal pada waktu dewasa mereka diharapkan untuk menjadi berbeda. Bayangkan begini, anak ikan, anak monyet, anak burung, semuanya harus bisa berenang, memanjat pohon, dan terbang.
  6. Banyak salah kaprah yang dibiarkan. Berapa banyak dari kita yang punya gelar S-1 teknik, tapi bekerja menjadi salesman? atau gelar sarjana farmasi, lalu menjadi staf purchasing ? atau gelar psikologi lalu menjadi sekretaris ?
  7. Last but not least, Entah mengapa, biaya pendidikan sangat mahal, bahkan lebih mahal dari beberapa sekolah / universitas top dunia, padahal mutu pendidikan dan sekolah di Indonesia bahkan tidak masuk dalam jajaran peringkat yang membanggakan.

Masih ada lagi beberapa catatan saya, tetapi semoga sekelumit benang kusut di atas dapat memberikan sedikit pandangan bagi para pemerhati pendidikan di Indonesia.


Daftar Pengunjung
000716
Online
: 1
Hits Hari ini
: 3
Klik Hari Ini
: 16
: 0
: 7
Rabu 27-Nov-2013 04:48:38
Pengunjung
Sebaik-baiknya web adalah banyaknya interaksi